DISKONQQ bandarq, aduq, dominoq, bandar sakong, judi capsa Judi Bola Judi Domino Poker ModalQQ Terpercaya Meja13 adalah situs judi online game capsa susun
Musimqq Bandar Sakong Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Terpercaya

Bursa Cerita Sex: Tak Puas Puas Gaulin ABG yang Haus Sex

Bursa Cerita Sex: Tak Puas Puas Gaulin ABG yang Haus Sex - Hallo Semuanya, Kali ini Bursa Cerita Sex, akan mencoba memberikan cerita dewasa Bursa Cerita Sex: Tak Puas Puas Gaulin ABG yang Haus Sex, Silahkan membaca dengan khusu biar Lendir lancar di buang hahahah...

Bursa Cerita Sex: Tak Puas Puas Gaulin ABG yang Haus Sex
Judul Cerita : Bursa Cerita Sex: Tak Puas Puas Gaulin ABG yang Haus Sex

lihat juga

Bandar DominoQQ Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Menangqq Agen bandar judi Adu Q Judi Bola Liga365

Bursa Cerita Sex: Tak Puas Puas Gaulin ABG yang Haus Sex

Bursa Cerita Sex: Tak Puas Puas Gaulin ABG yang Haus Sex
Bursa Cerita Sex: Tak Puas Puas Gaulin ABG yang Haus Sex

Ponakanku, Yuni, merayakan hari ultahnya pada umur yg selalu ditunggu para abg, karena pada umur itu seorang prempuan dah dianggap dewasa. Karena aku pernah kerja sebagai EO. Yuni minta tolong aku untuk mengatur pesta hutnya.

Aku tanya ma Yuni, dia maunya pestanya seperti apa dan berapa budgetnya yang disediakan ortunya. Bapaknya Yuni adalah adik kandungku, makanya Yuni bebas sekali ma aku.

Kalo becanda dah kaya ma temennya, padahal umurku dan dia berbeda jauh sekali, 20 tahun lebih. Ya gak apa, jadi aku awet muda kan kalo banyak bergaul dengan abg (termasuk menggauli kale).

Setelah aku mendapat info yang dibutuhkan, aku mencari cafe yang deket dengan rumah adikku, sehingga gak problem dengan trafik yang macet. Aku nego dengan manajer bar itu mengenai arrangement pesta hutnya Yuni. Karena ini pesta abg, makan malem mah ala kadarnya saja, yang penting banyak minumannya, non alkoholik tentunya.

Aku juga minta disediakan MC dari bar yang bisa memandu beberapa games untuk memeriahkan suasana. Aku minta adikku menyediakan beberapa suvenir dari kantornya sebagai hadiah untuk games itu.

“Yun, temen-temen kamu kece-kece gak”.
“So pasti om, Yuni gitu loh”. wah asik juga nih, banyk yg bisa dilihat,
“Tapi mreka datengnya bawa pasangan lo om”.

Wah, kecewa juga aku mendengarnya. Sampe dengan hari H nya. undangan dibuat jam 8 malem. Adik dan iparku dah standby di bar untuk menyambut temen-temen Yuni, setelah makan malam, acara potong kue dilakukan, gak ada coreng muka pake krim kue yang sering dilakukan pada acara abg.

Setelah itu adikku dan istrinya pulang karena selanjutnya adalah acara buat para abg. Yuni minta aku tetap stay, dia takut kalo ada acara yang meleset dari rencana.

“Om kan gak ada siapa-siapa dirumah, mending juga disini, ntar om turun ja ma temenku yang gak bawa pasangan”.

Memang tadi aku liat ada beberapa prempuan abg yang dateng bergerombol tanpa kawalan pasangannya. Acara games berlangsung meriah, palagi MC nya pinter banget membuat suasana jadi ceria. Setelah acara games slesai, sampailah pada acara puncak. Musik berdentam keras, ditingkahi dengan celoteh DJ yang mengajak para tetamu untuk mulai goyang.

“Om, ini Dewi, om temenin Dewi ya, dia gak punya pasangan”,

Yuni mengenalkan aku pada seorang abg, seumuranlah ma Yuni. Cantik, wajahnya dihiasi dengan sepasang mata yang indah, bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bibir mungil yang merekah. Yang menarik perhatianku, Dewi punya kumis tipis diatas bibirnya yang mengundang untuk dikecup.

Diruang yang temaran aku masi bisa menikmati wajahnya Dewi. Nama yang sangat sesuai dengan orangnya lagi. Yang lebih menarik lagi, dadanya dihiasi dengan sepasang tonjolan yang lumayan besar.

Palagi Dewi mengenakan t shirt dan jeans ketat, sehingga semua yang menonjol ditubuhnya menjadi nampak dengan jelas. Pinggangnya ramping dan pinggul serta pantat yang membulat sehingga badannya yang imut berpotongan seperti biola, sangat menggugah napsu.

“Om, tu apanya Yuni si”, teriak Dewi ditengah bisingnya musik.
“Aku kakak bokapnya Yuni”.
“Kok beda ya om”.
“apa bedanya?”
“Om kliatan lebih mudah, badan om atletis sekali, gak kaya bokapnya Yuni, dah botak gendut pula”.
“Lelaki kan juga mesti jaga penampilan, gak prempuan aja kan”.
“Bener banget om, duduk yuk om”.

Aku mengambil 2 soft drink dan duduk dipojokan berdua dengan Dewi, kringeten juga jingkrakan ngikuti goyangannya Dewi.

“wi, kamu seksi banget deh, kamu yang paling seksi dari semua yang dateng, Yuni ja kalah seksi ma kamu”.
“Om suka kan ngeliatnya”.
“Suka banget wi, palagi kalo gak pake apa2?, godaku menjurus.
“Ih si om, mulai deh genitnya, ntar kalo liat Dewi gak pake apa2, gak bisa nahan diri lagi”.
“Mangnya kamu suka gak pake apa2 didepan lelaki?”
“Depan cowokku om”.
“Wah bole dong skarang depan aku ya”.
“Maunya”.

Musik berganti dengan musik yang lembut.

“Om turun lagi yuk, Dewi pengen dipeluk om”.

Aku turun lagi dan melantai (ngepel kale) dengan Dewi, Dewi kupeluk erat, terasa sekali toket besarnya mengganjal didadaku.

“Wi toket kamu besar ya, sering diremes ya”, bisikku.
“Iya om”.

Aku mencium telinganya, Dewi menggeliat kegelian,

“om, nakal ih”.
“Tapi suka kan”.

Dewi gak menjawab, kembali aku mencium lehernya sehingga Dewi menggelinjang. Dewi mempererat pelukannya, aku seneng ja dipeluk abg seksi kaya Dewi. Sampe acara slesai Dewi nempel terus ma aku.

“Om tinggal sendiri ya”.
“Kok tau”.
“Yuni yang bilang, napa si om tinggal sendiri”.
“aku dah cere wi, anak2 ikut ibunya, napa kamu mo gantiin?”
“Mangnya om mau ma Dewi, Dewi kan masi abg, ntar om malu lagi jalan ma Dewi”.
“Wah malah bangga wi, biasa jalan ma abg yang cantik dan seksi kaya kamu”.

Ketika Yuni melihat Dewi nempel terus ma aku, dia mulai godain,

”Wah ada yang nempel terus neh kaya prangko, Dewi cantik kan om, pasti om suka deh ma Dewi, aku kan tau selera om kaya apa”.

Aku hanya senyum saja, Dewi cemberut jadinya,

“Udah deh loe sana ma cowok loe aja, gak bole liat orang lagi seneng ja”.
“Iya deh”, Yuni meninggalkan kami sambil tertawa berderai.

Setelah acara selesai, aku membereskan administrasinya dengan pihak bar.

“Om, makasi banyak ya buat bantuannya, kalo gak ada om pasti pestaku gak semeriah ini. Wi kamu pulang ikutan om ku ja, dia searah kok sama rumah kamu. Om anterin Dewi dulu ya, jangan diapa2in lo temenku yang seksi ini, dah tengah malem soalnya”,
Yuni tersenyum sambil menjabat tanganku.

“Mau aku anter pulang Wi”, tanyaku menoleh ke Dewi.
“Bole, kalo gak ngerepotin om”.
“Buat prempuan secantik dan seseksi kamu apa si yang repot”.

Dewi aku gandeng menuju ke tempat parkir.

“Om, Dewi males pulang deh”.
“Lo napa”.
“Dirumah gak ada siapa2 om, mending juga ma om ada yang nemenin Dewi ngobrol”. “Mangnya ortu kemana”.
“Wah ortu mah sibuk ma urusan masing2, Dewi jarang ketemu ortu biar serumah juga. Dewi ketemu ortu kalo ada keperluan ja, minta duit”.
“O gitu, kamu mo ikut aku ke apartmen?’
“Bole om”.
“Gak takut ma aku”.
“Mangnya om mo makan Dewi”.
“Mau makan bagian2 tertentu dibadan kamu”.
“Ih si om, bisa aja”.

Sepanjang perjalanan ke apartmenku Dewi curhat mengenai kondisinya, aku menjadi pendengar yang baik saja, sesekali aku kasi komentar.

“Om, Dewi suka deh lelaki kaya om, mature sekali, lagian om ganteng banget, atletis lagi badannya. Om sering maen ma abg ya”.
“Sesekali ja wi, kalo ada yg seksi kaya kamu, kamu mau kan maen ma aku”.

Dewi diem saja, tapi tangannya mulai mengelus2 pahaku, aku tau itu jawabannya atas pertanyaanku. Sesampainya di apartmen, aku langsung parkir mobil di basement di lot yang diperuntukkan buat aku. Dewi kugandeng ke lift dan lift meluncur ke lantai 40, dimana aku tinggal. Di lift Dewi kupeluk dan kucium pipinya,

“Oom”, Dewi hanya melenguh sambil memperat pelukannya ke aku.

Di apartment, Dewi langsung inspeksi, apartmenku kecil, ada 2 kamar tidur, ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan dan pantri. Di bagian belakang ada tempat untuk cuci pakaian dan balkonnya lumayan luas untuk jemur pakaian.

Dewi cukup lama berdiri di alok menatap kerlap kerlip lampu kota. Aku memeluknya dari belakang sambil encium kuduknya. Dewi mengeglinjang tapi dia membiarkan tanganku yang mulai mengelus toketnya dari luar t shirtnya.

“Ooom”, lenguhnya ketika toket montoknya mulai kuremas2.

Dewi menggeser2kan pantatnya yang membulat ke selangkanganku. Kontolku dah mengejang dengan kerasnya.

“Ih, om dah ngaceng ya”, katanya sambil terus menggeser2kan pantatnya ke kekontolku. aku makin gemes meremes2 toketnya, terasa sekali besar dan kencengnya toket abg montok ini.
“Om, Dewi dah pengen om, masuk yuk”.

Di sofa Dewi langsung melepas pakaian luarnya. Wah baru seumur segini dah liar banget ni Dewi, pikirku. Ya aku seneng ja dapet abg yang liar kaya Dewi gini, pasti nikmat banget dientotinnya. Aku mengeluarkan 2 soft drink dari lemari es.

Aku melotot melihat Dewi muncul dengan daleman bikini yang minim dan seksi. Toketnya seakan mau tumpah dari branya yang minim sekali. Demikian pula jembutnya berhamburan dari cd bikini yang model g string itu.

“wi, duduk disebelahku, kamu mau gak aku pijitin”, tanyanya.

Aku tinggal memakai celana panjangnya saja. Baju dah kulepas. Dewipun duduk membelakangiku. Aku mulai memijit pelan keningnya dari belakang. Dari kening turun ke kuduk. Dewi hanya terpejam saja menikmati pijitanku, turun lagi ke pundak.

“Enak om”, katanya. “Memangnya om pernah jadi tukang pijit ya”, godanya.

Aku diam saja, tapi tanganku meluncur ke toketnya. Jariku kembali menelusuri toketnya, kuelus2 dengan lembut. Dewi terdiam, napasnya mulai memburu terengah. Jari kuselipkan ke branya dan mengkilik2 pentilnya. Pentilnya langsung mengeras,

“Ooom”, lenguhnya.

Aku langsung saja meremes2 toketnya dengan penuh napsu. Dewi bersandar di dadaku yang bidang. Aku kembali menciumi lehernya sementara kedua toketnya terus saja kuremes2, sehingga napsunya makin berkobar.

Kemudian aku minta Dewi berbalik sehingga kami duduk berhadapan. Dewi tak menunggu lama, aku segera mengecup bibirnya. Dibalas dengan ganas. Bibirnya kukulum, lidahnya menjalar didalam mulutku sementara tangannya segera turun mencari kontolku.

Diusap2, terasa sekali kontolku sudah ngaceng berat, keras sekali. Segera ikat pinggangku dibuka, celanaku dibuka. Aku berdiri sehingga celana panjangku meluncur ke lantai. kontolku yang besar panjang itu nongol dari bagian atas CD ku yang mini. Kami segera bergelut. Aku terus meremas-remas toketnya sementara Dewi mengocok kontolku.

“om keras banget, gede lagi”, katanya sambil jongkok didepanku, melepas cdku dan menciumi kontolku dan menghisap daerah sekelilingnya termasuk biji pelernya.
“Aah wi, kamu pinter banget bikin aku nikmat”, erangku.
“aaaduuuuuhh. Wi..enak banget emutanmu”.

Kontolku dijilati seluruhnya kemudian dimasukkan ke mulutnya, dikulum dan diisep2. Kepalanya mengangguk2 mengeluar masukkan kontolku di mulutnya. Akhirnya aku gak tahan lagi. Dewi kubopong ke kamar.

Dewi kubaringkan diranjang. Sambil terus meremas2 toketnya tanganku satunya nyelip ke balik cd bikininya yang g string itu.  Otomatis pahanya mengangkang, sehingga aku dengan mudah mempermainkan jembutnya yang lebat.

“Om, geli”, erangnya.
“geli apa nikmat Wi”, tanyanya.
“Dua2nya om, Dewi dientot dong om, udah kepengin banget nih”, katanya to the point.

Tanganku menyusup ke punggungnya sambil mengecup bibirnya. Tali pengikat bra kutarik sehingga toketnya membusung menantang untuk diremas dan dikenyot pentilnya, tanpa penutup lagi. Ikatan CD bikini kutarik dengan mulutku sehingga lepaslah semua penutup tubuhnya yang minim.

“Wi kamu napsuin banget deh”, kataku.

Aku langsung saja menindihnya. penisku kuarahkan ke belahan memeknya yang sudah basah dan sedikit terbuka, lalu aku menekan kontolku sehingga kepala kontolku mulai menerobos masuk memeknya. Dewi mengerang keenakan sambil memeluk punggungku.

Aku kembali menciumi bibirnya. Lidahnya menjulur masuk mulutku lagi dan segera kuisep2. sementara itu aku terus menekan pantatku pelan2 sehinggga kepala kontolku masuk memeknya makin dalam dan bless, kontolku sudah masuk setengahnya kedalam memeknya.

“Aah, om nikmat banget om”, erangnya sambil mencengkeram punggungku.

Kedua kakinya dilingkarkan di pinggangku sehingga penisku besarku langsung ambles semuanya di memeknya.

“Om, ssh, enak om, terusin”, erangnya.

Dewi menggeliat2 ketika aku mulai mengeluar masukkan kontolku di memeknya. Dewi mengejang2kan memeknya meremes2 kontolku yang sedang keluar masuk itu.

“wi, nikmat banget empotan memek kamu, kamu masi muda gini dah pinter ngeladenin napsuku”, erangku.

Aku memeluknya dan kembali menciumi bibirnya, dengan menggebu2 bibirnya kulumat, Dewi mengiringi permainan bibirku dengan membalas mengulum bibirku. Terasa lidahnya menerobos masuk mulutku.

Aku mengenjotkan kontolku keluar masuk makin cepat dan keras, Dewi menggeliatkan pinggulnya mengiringi keluar masuknya kontolku di memeknya. Setiap kali aku menancapkan kontolku dalam2 Dewi melenguh keenakan.

Terasa banget kontolku menyesaki seluruh memeknya sampe kedalem. Karena lenguhannya aku makin bernapsu mengenjotkan kontolku. Gak bisa cepet2 karena kakinya masih melingkar dipinggangku, tapi cukuplah untuk menimbulkan rangsang nikmat di memeknya.

Kenikmatan terus berlangsung selama aku terus mengenjotkan kontolku keluar masuk, akhirnya Dewi gak tahan lagi. Jepitan kakinya di pinggangku terlepas dan di kangkangkan lebar2.

Posisi ini mempermudah gerakan kontolku keluar masuk memeknya dan rasanya masuk lebih dalam lagi. Tidak lama kemudian Dewi memeluk punggungku makin keras.

 “Om, Dewi mau nyampe om”.
“Kita bareng ya Wi”, kataku sambil mempercepat enjotanku.
“Om, gak tahan lagi om, Dewi nyampe om,aakh”, jeritnya saking nikmatnya.

Kakinya kembali melingkar di pinggangku sehingga kontolku nancep dalam sekali di memeknya. memeknya otomatis mengejang2 ketika Dewi nyampe sehingga bendungan pejuku bobol juga.

“Akh wi, aku ngecret wi, akh”, aku mengerang sambil mengecretkan pejuku beberapa kali di memeknya.

Dengan nafas yang terengah engah dan badan penuh dengan keringat, Dewi kupeluk sementara kontolku masih tetep nancep di memeknya. Dewi menikmati enaknya nyampe.

Setelah gak ngos2ann, aku mencabut kontolku dari memeknya.kontolku berlumuran lendir memeknya dan pejuku sendiri. Aku berbaring disebelahnya.

“wi, kamu nikmat banget deh kalo dientot. Kamu yang paling nikmat dari semua abg yang pernah aku entot”, kataku sambil mengelus2 pipinya.
“Dewi mo kok tinggal sama om, biar om gak usah repot cari abg kalo pengen *******. Udah tersedia di rumah”, katanya sambil tersenyum.

Aku diam saja.

“Om, Dewi ngantuk dan cape”.
“Ya udah, tidur ja wi, besok kita tempur lagi”.

Aku mematikan lampu dan tak lama kemudian kami dah terlelap diranjang yang kusut bertelanjang bulet. Hari sudah mulai terang ketika kami terbangun. Aku merasa lapar, Dewi juga,

“Om, Dewi laper om”, katanya.
“Iya wi, aku juga laper lagi nih, abis kerja keras sih”, jawabku.
“Mandi dulu yuk” ajakku.

Kami bercanda-canda di kamar mandi seperti anak kecil saling menggosok dan berebutan sabun, aku kemudian menarik tubuhnya merapat ke tubuhku. Aku duduk di toilet dan Dewi duduk dipangkuanku dan aku mengusap2 pahanya.

“Kamu cantik sekali, Wi”, rayuku.

Tanganku pindah ke bukit memeknya mempermainkan jembutnya yang lebat. Aku bisa melakukan itu karena Dewi mengangkangkan pahanya. Tanganku terus menjalar ke atas ke pinggangnya.

“geli om”, katanya ketika tanganku menggelitiki pinggangnya.

Dewi menggeliat2 jadinya. Segera aku meremes2 toketnya.

“Toket kamu besar ya wi, kenceng lagi”, kataku.
“om suka kan”, jawabnya.
“ya wi, aku suka sekali setiap inci dari tubuhmu”, jawabku sambil terus meremes2 toketnya.

Aku kemudian mencium bibirnya. Akhirnya usailah kemesraan di kamar mandi. Kami saling mengeringkan badan, dengan masih bertelanjang bulet, aku menyiapkan sarapan buat kita ber 2. Indomi rasa presiden ja ya Yu... Ya abis iklannya indomi dipake ma capres kan.

“Bisa aja si om, boleh deh, Dewi suka kok apa aja, asal om yang sediain”. “Ih manjanya”. “Tapi om suka kan Dewi manja2 ma om”.
“Suka banget Wi”.
“Dewi tinggal ma om ya, boleh ya om”.
“Nanti om dituduh melarikan anak dibawah umur lagi ma ortu kamu, kan repot kalo dilaporkan polisi sgala. Dewi bole kok kapan aja mo nginep disini”.

Dewi diem saja, kulihat ada raut kekecewaan diwajahnya.

“Jangan kecewa dong sayang, aku buatin dulu ya indomi rasa presidennya”.

Dia kembali tersenyum. Cantik sekali Dewi, wajahnya yang tanpa riasan sama sekali tampak cantik segar dan muda sekali. aku langsung on lagi ngeliatnya. Segera aku menyiapkan sarapan.

“Kamu mo minum apaan wi, ada teh kopi atau susu. Kalo susu mah kamu dah punya ya, besar lagi”.
“Oom”, katanya manja.

Aku nyiapin teh manis ja buat aku dan dia. Setelah indominya mateng, aku tambahin bawang goreng, sedikit kecap asin dan roiko penyedap rasa.

“Om enak banget indomi bikinan om, kalo dirumah bikinan pembokat gak seenak bikinan om”.
“Kalo suka ya tambah lagi ya, nanti aku bikinin lagi”.
“enggak lah om, ni kan ukuran jumbo, semangkok juga Dewi dah kenyang”.
“semalem kan ukuran jumbo yang masuk, dah kenyang juga”.
“O kalo yang itu masi pengen berkali2 lagi”.
“Haah, berkali2 lagi”.
“Iya om, abis nikmat banget si, abis sarapan maen lagi ya om”.

Luar biasa napsunya ni abg pikirku, ya gak apalah, malah aku bisa nikmati Dewi terus2an. Di kamar, Dewi sudah berbaring diranjang. kontolku yang belum diapa2in sudah ngaceng berat.

Aku segera mengecup bibirnya, beralih ke lehernya dan kemudian turun ke toketnya. toketnya kuremes2, Dewi terengah, napsunya berkobar lagi. pentilnya ku emut2 sambil meremas toketnya. Tanganku satunya menjalar kebawah, menerobos lebatnya jembutnya dan mengilik2 itilnya.

“aakh om, pinter banget ngerangsang Dewi”, erangnya.

Dewi mengangkangkan pahanya supaya kilikannya di itilnya makin terasa. Kilikan di itilnya membuat Dewi makin liar. Tangannya mencari kontolku, diremes dan kepalanya dikocok2.

Dewi bangkit. kontolku yang tegak berdiri dengan kerasnya. langsung diraih dan dijilati. Pertama cuma kepalanya yang dimasukkan ke mulutnya dan diemut2. Aku meraih pantatnya dan menarik Dewi menelungkup diatasku.

Aku mulai menjilati memeknya, Dewi menggelinjang setiap kali aku mengecup bibir memeknya. Dengan kedua tangan, aku membuka memeknya pelan2, aku menjilati bagian dalam bibir memeknya. Dewi melepaskan emutannya di kontolku dan mengerang hebat,

“om aakh”.

Pantatnya menggelinjang sehingga mulutku melekat erat di memeknya.

“Terus om aakh”, erangnya lagi. itilnya yang menjadi sasaran berikutnya,

Dewi makin mengerang keenakan. memeknya makin kebanjiran lendir yang terus merembes, soalnya Dewi udah napsu banget. Cukup lama aku mengemut itilnya dan akhirnya

“Om, Dewi nyampe om, aakh”, erangnya. “om nikmat banget deh, belum dientot udah nikmat begini om”.

Dewi memutar badannya kesamping dan berbaring disebelahku. Aku mencium bibirnya. Kemudian Dewi kunaiki, kutancapkan kontolku kememeknya dan kudorongnya masuk pelan2,

“Om, enak, masukin semuanya om, teken lagi om, akh”, erangnya merasakan nikmatnya kontolku nancep lagi di memeknya.

Aku mengenjotkan kontolku keluar masuk, ketika sudah nancep kira2 separonya, aku menggentakkan pantatku kebawah sehingga langsung aja kontolku ambles semuanya di memeknya.

“Om, aakh”, erangnya penuh nikmat. aku mengenjotkan kontolku keluar masuk makin cepet, sambil menciumi bibirnya sampe akhirnya,
“Om, Dewi nyampe lagi om, ooh”,

Dewi mengejang2 saking nikmatnya. memeknya otomatis ikut mengejang2. Aku meringis2 keenakan karena kontolku diremes2 memeknya dengan keras, tapi aku masih perkasa.

Kemudian aku mencabut kontolku dan minta Dewi nungging. Aku menciumi kedua bongkahan pantatnya, dengan gemas aku menjilati dan mengusapi pantatnya. Mulutku terus merambat ke selangkangannya.

Dewi mendesis merasakan sensasi waktu lidahku menyapu naik dari memeknya ke arah pantatnya. Kedua jariku membuka bibir memeknya dan aku menjulurkan lidah menjilati bagian dalem memeknya.

Dewi makin mendesah gak karuan, tubuhnya menggelinjang. Ditengah kenikmatan itu, aku dengan cepat mengganti lidah dengan kontolku. Dewi menahan napas sambil menggigit bibir ketika ****** besarku kembali nancep di memeknya.

“Om”, erangnya ketika akhirnya kontolku ambles semuanya di memeknya.

Aku mulai mengenjotkan kontolku keluar masuk, mula2 pelan, makin lama makin cepat dan keras. Dewi kembali mendesah2 saking enaknya. toketnya kuremes2 dari belakang, tapi enjotan kontolku jalan terus.

Ditengah kenikmatan, aku mengganti posisi lagi, aku duduk di kursi dan Dewi duduk dipangkuanku membelakangiku. kontolku sudah nancep semuanya lagi di memeknya. Dewi menolehkan kepalanya sehingga aku langsung melumat bibirnya. Dewi semakin cepat menaik turunkan badannya sambil terus ciuman dengan liar.

Aku gak bosen2nya ngeremes toketnya. Pentilnya yang sudah keras itu kuplintir2. Gerakannya makin liar saja, Dewi makin tak terkendali menggerakkan badannya, digerakkannya badannya turun naik sekuat tenaga sehingga kontolku nancep dalem banget.

“Om Dewi dah mau nyampe lagi om, aduh om, enak banget”, erangnya.

Tau Dewi udah mau nyampe, aku mengangkat badannya dari pangkuanku sehingga kontolku yang masih perkasa lepas dari memeknya.

“Kok brenti om”, tanyanya protes.

Dewi kutelentangkan lagi diranjang, aku naiki dia dan kembali kutancepkannya kontolku kedalam memeknya. Dengan sekali enjot, kontolku sudah ambles semuanya. Aku mulai mengenjotkan kontolku keluar masuk dengan cepat. memeknya mulai berkontraksi, mengejang, meremes2 kontolku, tandanya Dewi dah hampir nyampe.

Aku makin gencar mengenjotkan kontolku, dan “Om, Dewi nyampe om, akh”, jeritnya. Akupun merasakan remesan memeknya karena nyampe. enjotanku makin cepat saja sehingga akhirnya,

“Wi…” aku berteriak menyebut namanya dan pejuku ngecret dengan derasnya di memeknya.
“Om, nikmat banget ya, lagi ya om”, tanyanya. “istirahat dulu ya wi, kamu kok gak puas2 si, aku cape juga nih nggelutin kamu”, jawabku.

Aku mencabut kontolku dan terkapar disebelahnya. Tak lama kemudian aku kembali terlelap karena lemes dan nikmat. Aku terbangun, dah ampir tengah hari. kulihat Dewi masi terkapar dengan lelapnya.

Toketnya yang membusung bergerak turun naik seiring dengan tarikan napasnya. Kakinya pada posisi mengangkang sehingga memeknya terkuak diantara kerimbunan jembutnya. Memek yang barusan memberikan kenikmatan tak terhingga bagiku karena jepitan pada kontolku.

Memandangi tubuhnya pada posisi menantang seperti itu, napsuku naik lagi, kontolku kembali mulai mengeras. Dewi masih terbaring di ranjang. aku mandi membersihkan diriku, selesai mandi kulihat Dewi dah terbangun.

“enak banget tidurnya Wi”.
“Dewi cape banget om, om kok mandi gak ajak2 Dewi”.
“Abis bobonya pules banget, jadi aku gak bangunin kamu. Dah siang ni, mo cari makan gak, aku laper”.
“Dewi juga laper om, mi presidennya dah abis buat maen tadi pagi, kudu diisi batere baru ni, pasti om masi mau maen ma Dewi lagi kan”.
“Tau aja kamu, dah mandi Dewi”.
“Dewi gak bawa ganti om, masak pake baju yang semalem”.
“Mo pake bajuku, kegedean gak”.

Dewi tubuhnya imut, sehingga kalo pake pakeanku pastinya lah kedodoran.

“Gini deh, abis mandi ya terpaksa kamu pake lagi baju itu. Aku anter kamu pulang buat tuker baju, baru kita pergi cari makan”.
“Dewi tapi masi mo disini om”.
“Boleh, kamu boleh ja disini selama kamu mau, tapi kan kamu gak mo pake baju yang semalem”.

Dewi segera masuk kamar mandi membersihkan diri, selesai mandi dia mengenakan pakean yang semalem, kulihat dalemannya cuma dimasukkan kantong plastik.

“Yuk om, buruan, gatel2 ni, pake baju yang semalem”.

Rumah Dewi gak jauh dari apartmentku.

“Om, brentinya jauhan dari rumah ya, ntar keliahatan ma pembantu lagi Dewi om anter pulang”.

Aku berhenti dibawah pohon rindang, Dewi segera menenteng kantong plastik yang berisi dalemannya menuju rumahnya.

Cukup lama aku menunggunya, dia keluar lagi cuma bercelana pendek dan memakai tanktop. toketnya yang membusung nampak sangat menonjol. Aku dah pengen menggemasi toketnya itu.

“Kamu tu seksi sekali deh wi, pake apa aja tetep aja seksi dan cantik”.
“Kalo gak pake apa2?”“Wah lebih lagi, merangsang. Kamu mo makan apa?”.
“Terserah om aja, abis makan Dewi om makan lagi kan”.
“So pasti lah, kan kata kamu kita mo isi bensin buat ronde berikutnya”.

Aku menuju ke mal yang terdekat dari tempat itu. Kita puter2 saja disana mencari makan.

“Wi kamu mo aku beliin pakean?”
“Gak ah om, pakean Dewi dah selemari dirumah”.

Akhirnya aku mengajak Dewi makan pasta di satu resto pasta Itali. Dewi doyan banget makan pasta, dia makan semua yang aku pesan dengan lahapnya.

“Wah ngisi bensinnya banyak banget Wi”.
“Biar siap om kerjain lagi”.

Pulang makan, Dewi berbaring diranjang dan aku duduk disebelahnya.

“wi, aku dah napsu lagi liat badan kamu”, kataku.

Langsung Dewi melirik daerah kontolku, kelihatan sekali sudah mulai ngaceng karena kelihatan menggelembung. Aku mengelus2 punggungnya, terus tanganku pindah mengelus pahanya, merayap makin dalam sehingga menggosok memeknya dari luar celana pendeknya.

“Gak berasa om, lepasin dong pakean Dewi”.

Aku membuka kancing celana pendeknya dan kulorotkan, Dewi membantu dengan mengangkat pantatnya keatas. Dewi mengangkangkan pahanya sehingga jariku menggosok2 belahan memeknya dari luar cd.

“Ssh om”, erangnya. terus saja aku mengelus belahan memeknya dari luar cd nya.

Aku mulai menjilati pahanya, jilatanku perlahan menjalar ketengah. Dewi hanya dapat mencengkram sprei ketika merasakan lidahku yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir cd nya yang kusingkirkan dengan jari, lalu menyentuh bibir memeknya.

Bukan hanya bibir memeknya yang kujilati, tapi lidahku juga masuk ke liang memeknya. Aku terus mengelus paha dan pantatnya mempercepat naiknya napsunya. Sesaat kemudian, aku melepas cd nya. Kembali terpampang dengan jelas .memeknya yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi.

Aku mendekap tubuhnya dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut aku membelai permukaannya yang ditumbuhi jembut yang lebat. Sementara tanganku yang satunya mulai naik ke toketnya, menyusup ke dalam tanktopnya, kemudian kebalik branya kemudian meremas toketnya dengan gemas.

“wi, toket kamu besar dan keras. Jembut kamu lebat sekali, gak heran napsu kamu besar ya” kataku dekat telinganya sehingga deru nafasku menggelitik.

Dewi hanya terdiam dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifnya. Aku makin getol, jari-jariku kini bukan hanya mengelus memeknya tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, tanktop dan branya dah kulepas sehingga aku dapat melihat jelas toketnya dengan pentil yang sudah mengeras.

Tak lama kemudian cd nya pun menyusul kulepaskan, Dewi dah tlanjang bulet siap menampung kontolku lagi didalem memeknya. Dewi merasakan ****** keras di balik celanaku yang kugesek-gesek pada pantatnya. Aku sangat bernafsu melihat toketnya yang montok itu, aku meremas-remas dan terkadang memilin-milin pentilnya.

Ketika aku menciumi lehernya, nafasku sudah memburu, bulu kuduknya merinding waktu lidahku menyapu kulit lehernya disertai kecupan. Dewi hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasanku pada toketnya mengencang atau jariku mengebor memeknya lebih dalam.

Kecupanku bergerak naik menuju mulutnya meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirku akhirnya bertemu dengan bibirnya menyumbat erangannya, aku menciuminya dengan gemas. Aku bergerak lebih cepat dan melumat bibirnya.

Mulutnya mulai terbuka membiarkan lidahku masuk, aku menyapu langit-langit mulutnya dan menggelitik lidahnya dengan lidahku sehingga lidahnya pun turut beradu dengan lidahku. Kami larut dalam birahi, aku memainkan lidahku di dalam mulutnya.

Setelah puas berciuman, aku melepaskan dekapannya dan melepas pakeanku. Maka menyembullah kontolku yang sudah ngaceng dari tadi. Dewi tetep saja melihat takjub pada kontolku yang begitu besar dan berurat,

“Om, Dewi belum pernah melihat penis sebesar dan sepanjang penis om”.

Dewipun pelan-pelan meraih kontolku, tangannya tak muat menggenggamnya.

“Ayo wi, emutin kontolku” kataku.

Kubimbing kontolku dalam genggamanku ke mulutnya. Dewi terus memasukkan lebih dalam ke mulutnya lalu mulai memaju-mundurkan kepalanya. Selain mengemut Dewi mengocok ataupun memijati biji pelirnya.

“Uaahh.. ennakk banget, kamu udah pengalaman yah” ceracauku menikmati emutannya, sementara tanganku yang bercokol di toketnya sedang asyik memelintir dan memencet pentilnya.

Tangan kananku tetap saja mempermainkan memek dan itilnya. Dewi menggelinjang gak karuan, tapi kontolku tetap saja diemutnya. Dewi hanya bisa melenguh tidak jelas karena mulutnya penuh dengan kontolku yang besar.

“wi, kita mulai aja ya. Aku udah gak tahan nih pengen menikmati memek kamu lagi”, kataku.

Aku menelentangkan Dewi, aku mengambil posisi ditengah kangkangannya, kontolku yang besar dan keras kuarahkan ke memeknya yang sudah makin basah. Dewi menggeliat2 ketika merasakan betapa besarnya penisku yang menerobos masuk memeknya pelan2. memeknya berkontraksi kemasukan penis gede itu.

“wi, memek kamu peret banget”, kataku sambil terus menekan masuk kontolku pelan2.
“abis penis om besar sekali. Memek Dewi baru sekarang kemasukan yang sebesar penis om, masukin terus om, nikmaat banget deh rasanya”, jawabnya sambil terus menggeliat.

Setengah kontolku telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh kontolku telah ada di dalam memeknya. Dewi hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja karena sedang mengalami kenikmatan tiada tara.

Aku mulai mengenjotkan kontolku keluar masuk dengan pelan, makin lama makin cepat karena enjotannya makin lancar. Terasa memeknya mengencang meremas kontolku, nikmat banget deh. Tanganku mulai bergerilya ke arah toketnya.

Toketnya kuremas perlahan, seirama dengan enjotan kontolku di memeknya. Dewi hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, Pinggulnya mengikuti goyangan pinggulku. kontolku terus saja kukeluar masukkan mengisi seluruh relung memeknya.

Sambil mengenjotkan kontolku, aku mengemut pentilnya yang keras dengan lembut.Kumainkan pentil kanan dengan lidahku, namun seluruh permukaan bibirku membentuk huruf O dan melekat di toketnya. Ini semua membuat Dewi mendesah lepas, tak tertahan lagi. Aku mulai mempercepat enjotannya. Dewi makin sering menegang, dan merintih,

“Ah… ah…” Dalam enjotannya yang begitu cepat dan intens, Dewi menjambak rambutku,
“Aaahhh om, Dewi nyampee,” lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulutnya.

Dewi udah nyampe. Tangannya yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas. Aku makin intens mengenjotkan kontolku. Bibirnya yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun kulumat, dan Dewi membalasnya dengan lumatan juga.

Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kananku tetap berada ditoketnya, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan pentilnya. Terasa memeknya mencengkeram penis gedeku.

“Uhhh,” aku mengejang.

Satu pelukan erat, dan sentakan keras, kontolku menghujam keras ke dalam memeknya, mengiringi muncratnya pejuku. Tepat saat itu juga Dewi memelukku erat sekali, mengejang, dan menjerit,

“Aahhh”.

Kemudian pelukannya melemas. Dewi nyampe untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ngecretnya pejuku. Setelah dengusan napas mereda, aku mencabut kontolku dari memeknya dan terkapar disebelahnya.

“om, penis om lemes aja udah gede, gak heran kalo ngaceng jadi gede banget.

Bener kata temen Dewi, makin gede penis yang masuk, makin nikmat rasanya”, katanya.

“memangnya penis cowok kamu kecil ya Wi”, tanyaku padanya.
“Gede sih om, tapi gak segede penis om, tapi nikmat banget deh”, jawabnya sambil menguap.

Tak lama kemudian Dewi kembali terlelap. Dewi terbangun karena hpnya bunyi, sms dari Yuni rupanya, ngingetin kalo mereka akan kumpul malem ini untuk blajar bersama.

“Dari sapa Wi”.
“Yuni om, ngingetin buat blajar bersama di tempat Yuni malem ini. Udahan deh nikmatnya ya om, kapan Dewi ngerasain nikmat kaya gini lagi om”.
“Kapan aja kamu mau, aku siap kok wi, aku juga nikmat banget deh ngentotin kamu. Kamu yang paling nikmat dari semua abg yang pernah aku entotin”.

Dewi bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Gak lama kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi dan giliranku untuk membersihkan diri. Setelah rapi berpakaian, aku mengantarkan Dewi kembali ke rumahnya, Dewi mengambil buku2 yang diperlukan untuk belajar bersama, aku mengantarkannya ke tempat Yuni.

“Om, nanti jam 9an jemput Dewi lagi ya, Dewi masi pengen ngerasain nikmat ma om lagi, bole ya om”. Wah hebat banget ni anak, gak ada puasnya.
“Ya deh, nanti aku tunggu kamu disini ya, aku sms kamu deh kalo dah sampe”.
“Nanti Dewi sms om juga deh kalo dah mo selesai blajarnya, biar om gak nunggu kelamaan. Kalo dah malem kan jalannya gak macet om ke tempat Yuni”.

Jam 9, aku dah standbye deket tempatnya Yuni, Dewi dah sms aku beberapa waktu yang lalu ngasi tau bahwa dia dah selesai blajarnya. Aku mengajak Dewi ke pantai, menikmati udara laut yang segar. Bosen kalo ditempatku terus.

“Kamu dah makan Wi”.
“Udah om, om dah makan”.
“Ya udah dong sayang”.
“Ih om mulai deh nggombalin Dewi, pake sayang2an segala. Kok kita kesini si om, Dewi kan pengen ngerasain nikmat lagi ma om”.
“Bosen ditempatku terus wi, kita ke motel aja yuk, deket sini ada kok”.

Aku langsung mengrahkan mobil menuju ke motel. Mobil masuk garasi dan petugas menutup rolling doornya. Aku menggandeng Dewi naik ke lantai 2. Gak lama kemudian petugas menagih biaya kamar, aku membereskannya. Dewi heran melihat banyaknya kaca sekeliling ruang dan dilangit2.

“Buat apa kaca sebanyak ini om”.
“Kan sensasinya beda wi, lagi maen sembari melihat kita yang lagi maen”.

Dewi membuka pakaiannya dan hanya mengenakan daleman yang tipis berbaring diranjang, akupun segera melepas pakaianku meninggalkan cd nya saja dan berbaring disebelahnya.

kemudian aku mulai meremas-remas pantatnya dengan gemas. setelah itu tanganku mulai menyusup ke dalam cdnya dan meremas kembali pantatnya dari dalam. Kemudian, aku mengangkat satu kakinya dan menahannya selagi tanganku satunya meraih memeknya.

“Ohh.. om,” rintihnya.

Jariku dengan lincah menggosok-gosok lubang memeknya yang mulai basah. Nafasnya juga mulai cepat dan berat. Aku membuka cdnya dan membuka lebar-lebar pahanya sehingga memeknya terpampang lebar untuk dijelajahi oleh tanganku. dengan sigap tanganku kembali meraih memeknya dan meremasnya.

Aku menjilati telinganya ketika tanganku mulai bermain diitilnya. Napsunya sudah tak tertahankan lagi. Dewi mulai mendesah-desah tak keruan. Jilatan maut di telinganya menambah nafsunya. Aku terus menekan-nekan itilnya dari atas ke bawah. Dewi meracau tak karuan.

“Ahh.. Shh.. om” desahnya bernafsu.

Jariku dengan lihai mengggosok-gosok dan menekan itilnya dengan berirama. desahannya berubah menjadi rintihan kenikmatan. Tak sampai 15 menit kemudian, Dewi nyampe. “om, nikmat banget, belum dientot saja sudah nikmat,” desahnya, tangannya meremas tanganku yang sedang bermain di itilnya dengan bernafsu.

Aku merentangkan kedua pahanya. Kujilat bibir memeknya, rasa menggelitik yang luar biasa menyerang tubuh Dewi. Jilatanku menjalar ke itilnya, kugigit lembut itilnya yang kian merangsang napsunya.

Dewi melenguh keras disertai jeritan-jeritan kenikmatan yang seakan menyuruh aku untuk terus dan tak berhenti. Melihat reaksinya, aku terus menggesekan jariku di liang memeknya yang sudah membanjir. Tak kuasa menahan nikmat, Dewi pun mendesah keras terus-menerus.

Dewi meracau tidak beraturan. Kemudian memeknya mengeluarkan cairan deras bening, Dewi nyampe untuk kedua kalinya.

“om, ooh”, lenguhnya.

Aku membuka branya dan meremas toketnya dengan sangat keras. Dewi melenguh sakit, kemudian pentilnya yang menjadi sasaran berikutnya, kupilin dan kucubit pelan. Napsunya kembali berkobar, memeknya kembali membasah,

“om, entotin Dewi sekarang, Dewi udah napsu banget om”, erangnya.

Akupun mencopot cdku, penis besarku sudah ngaceng berat mengangguk2. Aku menggesekkan kepala kontolku ke bibir memeknya yang sudah basah. Dewi merasakan sensasi lebih daripada jilatan lidahku di memeknya sebelumnya hingga Dewi merintih keras saking nikmatnya.

“Ahh! om.. Ohh.. Entotin Dewi” racaunya.

Dengan perlahan aku memasukkan kepala penis ke dalam memeknya, segera aku menyodok-nyodok kontolku dengan kuat dan keras di memeknya. Rasanya nikmat sekali. Aku mendesah terus-menerus karena kerapatan dan betapa enaknya memeknya. kontolku yang panjang dan besar terasa menyodok bagian terdalam memeknya hingga membuatnya nyampe lagi.

“om, Dewi nyampe om, aakh nikmatnya”, erangnya.

Kemudian aku membalikkan badannya yang telah lemas dan menusukkan kontolku ke dalam memeknya dari belakang. Posisi doggie ini lebih nikmat karena terasa lebih menggosok dinding memeknya yang masih sensitif.

Akhirnya setelah menggenjotnya selama setengah jam, aku ngecret didalam memeknya. Pejuku terasa dengan kuat menyemprot dinding memeknya. aku menjerit-jerit nikmat dan badanku mengejang-ngejang. Aku dengan kuat meremas toketnya dan menarik-narik pentilnya.

Setelah reda, aku berbaring di sebelahnya dan menjilati pentilnya. Pentilnya kusedot-sedot dengan gemas. Aku ingin membuatnya nyampe lagi. Tanganku kembali menjelajahi memeknya, namun kali ini jariku masuk ke dalam memeknya. Aku menekan-nekan dinding memeknya.

Ketika sampai pada suatu titik, badannya mengejang nikmat dan aku kembali menggosok-gosok daerah rawan itu dan menekannya terus menerus. itulah G-Spot. Dewi tidak bertahan lama dan akhirnya nyampe lagi untuk kesekian kalinya. Badannya mengejang dan memeknya kembali berlendir.

“om nikmat banget deh malem ini”, katanya.
“Masi mo lagi kan sayang”.
“Kalo om masi kuat ya mau aja”.

Aku mencium bibirnya. Dewi menyambut ciumanku dengan napsu juga, bukan cuma bibir yang main, lidah dan ludah pun saling belit dan campur baur dengan liarnya. Sebelah kakinya ngelingker di pinggulku supaya lebih mepet lagi. Tanganku mulai main, menjalari pahanya.

Tanganku terus menjalar sampai menyentuh celah di pangkal pahanya. memeknya kugelitik-gelitik. Dewi menggelepar merasakan jari-jariku yang nakal. Bibir kulepas dari bibirnya.

“Hmmhhh…enak, om.” jeritnya. jari-jariku tambah nakal, menusuk lubang memeknya yang sudah berlendir dan mengocoknya. Dewi tambah menjerit-jerit.
“om…hhh…masukkin penisnya om, Dewi udah nggak tahan..hhhh…hhh…”

Aku segera memposisikan diatasnya yang sudah telentang mengangkang. kontolku ditancapkan ke memeknya, Dewi melenguh keenakan,

“om penis om nikmat banget deh”. penis kudorong lagi sampai mentok.
“Om..oohhh..nikmatnya” jeritnya. penisku kukocok keluar masuk memeknya.

Dewi mulai mengejang-ngejang lagi dan bibirnya tak henti-henti menyuarakan kenikmatan. Kurang lebih dua puluh menitan akhirnya aku ngecret. Ugh, rasanya enak bener. pejuku berhamburan keluar, bermuncratan dan menembak-nembak didalam memeknya.

Dewi sendiri sudah beberapa kali nyampe sampe memeknya mengejang-ngejang keenakan. Lendir dari memeknya membanjir…meleber di paha, betis dan pantatnya. Dewi menggeletak lemas. Aku dan dia sama-sama mandi keringat. Nafasnya terengah-engah tak beraturan. dia merebahkan badannya di sampingku.

“Om, dah waktunya pulang, sedih ya, tapi Dewi besok mesti sekolah lagi, pengen nangis deh om”.
“Jangan nangis sayang, masi banyak waktu laen kok buat kita berdua”,

Aku menenangkan diri. Setelah bebersih, kita meninggalkan motel dan aku mengantarkan Dewi pulang. Luar biasa hari ini, lemes rasanya aku nggelutin Dewi seharian, tapi nikmatnya top markotop.




Demikianlah Artikel Bursa Cerita Sex: Tak Puas Puas Gaulin ABG yang Haus Sex

Sekian Blog Lendir Bursa Cerita Sex: Tak Puas Puas Gaulin ABG yang Haus Sex, Mudah-mudahan bisa membantu kalian yang sedang kesepian dan bisa menghantarkan tidur pulas hahhaha

Anda sedang membaca artikel Bursa Cerita Sex: Tak Puas Puas Gaulin ABG yang Haus Sex dan artikel ini url permalinknya adalah http://bursaceritasex.blogspot.com/2017/09/bursa-cerita-sex-tak-puas-puas-gaulin-abg-yang-haus-sex.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Tag : , , , , , ,

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Bursa Cerita Sex: Tak Puas Puas Gaulin ABG yang Haus Sex"

Post a Comment