DISKONQQ bandarq, aduq, dominoq, bandar sakong, judi capsa Judi Bola Judi Domino Poker ModalQQ Terpercaya Meja13 adalah situs judi online game capsa susun Menangqq Agen bandar judi Adu Q Bandar DominoQQ Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Perkasa99 Situs Bandar66 Terbaik NikmatQQ Situs BandarQ Terbesar
Musimqq Bandar Sakong Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Terpercaya

Bursa Cerita Sex: Papa Hardy Yang Perkasa

Bursa Cerita Sex: Papa Hardy Yang Perkasa - Hallo Semuanya, Kali ini Bursa Cerita Sex, akan mencoba memberikan cerita dewasa Bursa Cerita Sex: Papa Hardy Yang Perkasa, Silahkan membaca dengan khusu biar Lendir lancar di buang hahahah...

Bursa Cerita Sex: Papa Hardy Yang Perkasa
Judul Cerita : Bursa Cerita Sex: Papa Hardy Yang Perkasa

lihat juga

Judi Bola Liga365

Bursa Cerita Sex: Papa Hardy Yang Perkasa

Bursa Cerita Sex: Papa Hardy Yang Perkasa
Bursa Cerita Sex: Papa Hardy Yang Perkasa

Sebut saja Hardy, laki-laki 40 tahunan yang menikahi Mamahhku 1,5 tahun yang lalu. Papa Hardy menikahi Mamahhku sejak Mamahh menjanda akibat Papa kandungku meninggal karena penyakit.

Setelah Papa Hardy menikahi Mamahhku, dengan sebisa mungkin Mamahh mendekatkanku pada Papa Hardy, dengan sering mengajakku jalan-jalan, sering membelikanku barang-barang yang aku suka, pokoknya semua yang aku inginkan selalu dipenuhi oleh Papa Hardy, hingga akhirnya hatiku luluh dan aku dekat dengan Papa Hardy.

Papa Hardy meskipun usianya sudah 40 tahunan, namun Papa masih terlihat gagah sekali. Wajahnya ganteng, tubuhnya masih atletis karena Papa Hardy setiap pagi selalu rutin berolah raga. Semakin lama Papa Hardy semakin dekat denganku, aku merasakan kasih sayang yang lebih dari Papa Hardy.

Aku sering manja-manjaan dengan Papa Hardy ketika sedang santai dirumah bersama dengan Mamahh juga. Namun semakin lama aku merasakan ada yang berbeda dari Papa Hardy, entah itu hanya perasaanku saja atau emang benar aku belum mengetahuinya. ketika aku lahir aku diberi nama oleh Mamahhku Andini, umurku saat ini 17 tahun.

Namun postur tubuhku tidak seperti pada gadis seumuranku, aku mempunyai postur tubuh yang tinggi, badan sintal, dan yang jelas perkembangan payudara dan pantatku cepat sekali, jadi payudara terlihat besar 36 dan pantatku besar hingga menonjol keluar.

Penampilanku jika berdandan bisa dibilang mirip wanita yang sudah bekerja. Kalau dirumah aku juga suka menggunakan pakaian santai dengan celana pendek yang hanya menutupi vaginaku dan tengtop srtitku sehingga payudaraku terlihat menonjol dengan jelas.

Perubahan sifat Papa aku rasakan ketika sedang santai berdua dengan Papa tanpa ada Mamahh, Papa mengelus paha mulusku sambil sesekali mencolek pantatku yang besar. hingga saat aku berpamitan untuk pergi kesekolah aku yang biasanya hanya mencium pipi Papa Hardy sekarang Papa juga mencium bibirku.

Aku pun merasakan ciuman Papa menandakan sesuatu hal. Namun aku masih bingung dengan yang aku rasakan, aku tidak menolak sama sekali dengan yang Papa lakukan kepadaku. Bahkan aku sedikit menikmati perlakuan Papa kepadaku. hingga akhirnya, Suatu pagi seusai sarapan, aku mencoba untuk melupakan kejadian kemarin.

Tetapi ketika aku memberikan ciuman ke Mamah, Papa beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar. Mau tidak mau kuikuti Papa ke kamar. Aku pun segera berjinjit untuk mencium pipi Papa. Respon Papa pun kulihat biasa saja. Dengan sedikit membungkukkan tubuh atletisnya, Papa menerima ciumanku.

Tetapi setelah kucium kedua pipinya, tiba-tiba Papa mendaratkan bibirnya ke bibirku. Serr.., darahku seketika berdesir. Apalagi bulu-bulu kasarnya bergesekan dengan bibir atasku. Tetapi entah kenapa aku menerimanya, kubiarkan Papa mengulum lembut bibirku. Hembusan nafas Papa Hardy menerpa wajahku.

Hampir satu menit kubiarkan Papa menikmati bibirku. “Baik-baik di sekolah ya.., pulang sekolah jangan keluyuran..!” begitu yang kudengar dari Papa. Sejak kejadian itu, hubungan kami malah semakin dekat saja. Keakraban ini kunikmati sekali.

Aku sudah dapat merasakan nikmatnya ciuman seorang lelaki, kendati itu dilakukan Papa tiriku, begitu yang tersirat dalam pikiranku. Darahku berdesir hangat bila kulit kami bersentuhan. Begitulah, setiap berangkat sekolah, ciuman ala Papa menjadi tradisi.

Tetapi itu rahasia kami berdua saja. Bahkan pernah satu hari, ketika Mamah di dapur, aku dan Papa berciuman di meja makan. Malah aku sudah berani memberikan perlawanan. Lidah Papa yang masuk ke rongga mulutku langsung kuhisap. Papa juga begitu.

Kalau tidak memikirkan Mamah yang berada di dapur, mungkin kami akan melakukannya lebih panas lagi. Hari ini cuaca cukup panas. Aku mengambil inisiatif untuk mandi. Kebetulan aku hanya sendirian di rumah. Mamah membawa kedua adikku liburan ke luar kota karena lagi liburan
sekolah.

Dengan hanya mengenakan handuk putih, aku sekenanya menuju kamar mandi. Setelah membersihkan tubuh, aku merasakan segar di tubuhku. Begitu hendak masuk kamar, tiba-tiba satu suara yang cukup akrab di telingaku menyebut namaku.

“Din.. Din.., Papa pulang..” ujar lelaki yang ternyata Papaku.
“Kok cepat pulangnya Pah..?” tanyaku heran sambil mengambil baju dari lemari.
“Iya nih, Papa capek..” jawab Papa dari luar.
“Kamu masak apa..?” tanya Papa sambil masuk ke kamarku.

Aku sempat kaget juga. Ternyata pintu belum dikunci. Tetapi aku coba tenang-tenang saja. Handuk yang melilit di tubuhku tadinya kedodoran, aku ketatkan lagi. Kemudian membalikkan tubuh. Papa rupanya sudah tiduran di ranjangku.

“Ada deh..,” ucapku sambil memandang Papa dengan senyuman.
“Ada deh itu apa..?” tanya Papa lagi sambil membetulkan posisi tubuhnya dan memandang ke arahku
“Memangnya kenapa Pa..?” tanyaku lagi sedikit bercanda.
“Nggak ada racunnya kan..?” candanya.
“Ada, tapi kecil-kecil..” ujarku menyambut canda Papa.
“Kalau gitu, Papa bisa mati dong..” ujarnya sambil berdiri menghadap ke arahku.
Aku sedikit gelagapan, karena posisi Papa tepat di depanku.
“Kalau Papa mati, gimana..?” tanya Papa lagi.
Aku sempat terdiam mendengar pertanyaan itu.
“Lho.., kok kamu diam, jawab dong..!” tanya Papa sambil menggenggam kedua tanganku yang sedang memegang handuk.

Aku kembali terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana. Bukan jawabannya yang membuatku diam, tetapi keberadaan kami di kamar ini. Apalagi kondisiku setengah bugil. Belum lagi terjawab, tangan kanan Papa memegang daguku, sementara sebelah lagi tetap menggenggam tanganku dengan hangat. Ia angkat daguku dan aku menengadah ke wajahnya.

Aku diam saja diperlakukan begini. Kulihat pancaran mata Papa begitu tenangnya. Lalu kepalanya perlahan turun dan mengecup bibirku. Cukup lama Papa mengulum bibir merahku. Perlahan tetapi pasti, aku mulai gelisah. Birahiku mulai terusik.

Tanpa kusadari kuikuti saja keindahan ini. Nafsu remajaku mulai keluar ketika tangan kiri Papa menyentuh payudaraku dan melakukan remasan kecil. Tidak hanya bibirku yang dijamah bibir tebal Papa. Leher jenjang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu pun tidak luput dari sentuhan Papa. Bibir itu kemudian berpindah ke telingaku.

“Pah..” kataku ketika lidah Papa masuk dan menggelitik telingaku.

Papa kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur empuk.

“Pah.. nanti ketahuan Mamahh..” sebutku mencoba mengingatkan Mamah.

Tetapi Papa diam saja, sambil menindih tubuhku, bibirku dikecupnya lagi. Tidak lama, handuk yang melilit di tubuhku disingkapkannya.

“Andini, tubuh kamu sangat harum..” bisik Papa lembut sambil mencampakkan guling ke bawah.

Dalam posisi ini, Papa tidak puas-puasnya memandang tubuhku. Bulu halus yang membalut
kulitku semakin meningkatkan nafsunya. Apalagi begitu pandangannya mengarah ke payudaraku.

“Kamu udah punya pacar, Din..?” tanya Papa di telingaku.
“Aku hanya menggeleng pasrah”

Papa kemudian membelai dadaku dengan lembut sekali. Seolah-olah menemukan mainan baru, Papa mencium pinggiran payudaraku.

“Uuhh..,” desahku ketika bulu kumis yang dipotong pendek itu menyentuh dadaku, sementara tangan Papa mengelus pahaku yang putih. Puting susu yang masih merah itu kemudian dikulum.

“Pah.. oohh..” desahku lagi. “Pah.. nanti Mamm..” belum selesai kubicara, bibir Papa dengan sigap kembali mengulum bibirku.
“Papa sayang Andini..” kata Papa sambil memandangku.

Sekali lagi aku hanya terdiam. Tetapi sewaktu Papa mencium bibirku, aku tidak diam. Dengan panasnya kami saling memagut. Saat ini kami sudah tidak memikirkan status lagi. Puas mengecup putingku, bibir Papa pun turun ke perut dan berlabuh di selangkangan.

Papa memang pintar membuatku terlena. Aku semakin terhanyut ketika bibir itu mencium kemaluanku. Lidahnya kemudian mencoba menerobos masuk. Nikmat sekali rasanya. Tubuhku pun mengejang dan merasakan ada sesuatu yang mengalir cepat, siap untuk dimuntahkan.

“Ohh, ohh..” desahku panjang.

Papa rupanya tahu maniku keluar, lalu dia mengambil posisi bersimpuh di sebelahku. Lalu mengarahkan tanganku ke batang kemaluannya. Kaget juga aku melihat batang kemaluannya Papa, besar dan tegang. Dengan mata yang sedikit tertutup, aku menggenggamnya dengan kedua tanganku. Setan yang ada di tubuh kami seakan-akan kompromi. Tanpa sungkan aku pun mengulum benda itu ketika Papa mengarahkannya ke mulutku.

“Terus Din.., oh.. nikmatnya..” gumamnya.

Seperti berpengalaman, aku pun menikmati permainan ini. Benda itu keluar masuk dalam mulutku. Sesekali kuhisap dengan kuat dan menggigitnya lembut. Tidak hanya Papa yang merasakan kenikmatan, aku pun merasakan hal serupa. Tangan Papa mempermainkan kedua putingku dengan tangannya.

Karena birahi yang tidak tertahankan, Papa akhirnya mengambil posisi di atas tubuhku sambil mencium bibirku dengan ganas. Kemudian kejantanannya Papa menempel lembut di selangkanganku dan mencoba menekan.

Kedua kakiku direntangkannya untuk mempermudah batang kemaluannya masuk. Perlahan-lahan kepala penis itu menyeruak masuk menembus selaput dinding vaginaku.

“Sakit.. pah..” ujarku.
“Tenang Sayang, kita nikmati saja..” jawabnya.

Pantat Papa dengan lembut menekan, sehingga penis yang berukuran 18cm dan berdiameter 4cm itu mulai tenggelam keseluruhan. Papa melakukan ayunan-ayunan lagi. Kuakui, Papa memang cukup lihai. Perasaan sakit akhirnya berganti nikmat.

Baru kali ini aku merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Pantas orang bilang surga dunia. Aku mengimbangi kenikmatan ini dengan menggoyang-goyangkan pantatku.

“Terus Din, ya.. seperti itu..” sebut Papa sambil mempercepat dorongan penisnya.
“Papa.. ohh.., ohh..” renguhku karena sudah tidak tahan lagi.

Seketika itu juga darahku mengalir cepat, segumpal cairan putih meleleh di bibir vaginaku. Kutarik leher Papa hingga pundaknya kugigit keras. Papa semakin terangsang rupanya. Dengan perkasa dikuasainya diriku. Vagina yang sudah basah berulangkali diterobos penis Papa.

Tidak jarang payudaraku diremas dan putingku dihisap. Rambutku pun dijambak Papa. Birahiku kembali memuncak. Selama tiga menit kami melakukan gaya konvensional ini. Tidak banyak variasi yang dilakukan Papa. Mungkin karena baru pertama kali, dia takut menyakitiku.

Kenikmatan ini semakin tidak tertahankan ketika kami berganti gaya. Dengan posisi 69, Papa masih perkasa. Penis Papa dengan tanpa kendali keluar masuk vaginaku.

“Nikmat Din..? Ohh.. uhh..” tanyanya.

Terus terang, gaya ini lebih nikmat dari sebelumnya. Berulangkali aku melenguh dan mendesah dibuatnya.

“Pah.. Andini nggak tahan..” kataku ditengah terjangan Papa.
“Sa.. sa.. bar Sayang.., ta.. ta.. han dulu..” ucap Papa terpatah-patah.

Tetapi aku sudah tidak kuat lagi, dan untuk ketiga kalinya aku mengeluarkan mani kembali.

“Okhh.. Ohkk.. hh..!” teriakku.

Lututku seketika lemas dan aku tertelungkup di ranjang. Dengan posisi telungkup di ranjang membuat Papa semakin belingsatan. Papa semakin kuat menekan penisnya. Aku memberikan ruang dengan mengangkat pantatku sedikit ke atas. Tidak berapa lama dia pun keluar juga.

“Okhh.. Ohh.. Ohk..” erang Papa.

Hangat rasanya ketika mani Papa menyiram lubang vaginaku. Dengan peluh di tubuh, Papa menindih tubuhku. Nafas kami berdua tersengal-sengal. Sekian lama Papa memelukku dari belakang, sementara mataku masih terpejam merasakan kenikmatan yang baru pertama kali kualami. Dengan penis yang masih bersarang di vaginaku, dia mencium lembut leherku dari belakang.

“Din, Papa sayang Andini. Sebelum menikahi Mamahmu, Papa sudah tertarik sama Andini..” ucap Papa sambil mengelus rambutku.

Mamah dan adikku, tiga hari di rumah nenek. Selama tiga hari itu pula, aku dan Papa mencari kepuasan bersama. Entah setan mana yang merasuki kami, dan juga tidak tahu sudah berapa kali kami lakukannya. Terkadang malam hari juga, walaupun Mamah ada di rumah. Dengan alasan menonton bola di TV, Papa membangunkanku, yang jelas perbuatan ini kulakukan hingga sekarang.




Demikianlah Artikel Bursa Cerita Sex: Papa Hardy Yang Perkasa

Sekian Blog Lendir Bursa Cerita Sex: Papa Hardy Yang Perkasa, Mudah-mudahan bisa membantu kalian yang sedang kesepian dan bisa menghantarkan tidur pulas hahhaha

Anda sedang membaca artikel Bursa Cerita Sex: Papa Hardy Yang Perkasa dan artikel ini url permalinknya adalah http://bursaceritasex.blogspot.com/2017/09/bursa-cerita-sex-papa-hardy-yang-perkasa.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Tag : , , , , ,

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Bursa Cerita Sex: Papa Hardy Yang Perkasa"

Post a Comment