DISKONQQ bandarq, aduq, dominoq, bandar sakong, judi capsa Judi Bola Judi Domino Poker ModalQQ Terpercaya Meja13 adalah situs judi online game capsa susun Menangqq Agen bandar judi Adu Q Bandar DominoQQ Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Perkasa99 Situs Bandar66 Terbaik NikmatQQ Situs BandarQ Terbesar
Musimqq Bandar Sakong Dan Adu Q Juga Bandar Poker Online Terpercaya

Bursa Cerita Sex: Pelampiasan Pada Teman Baik Istriku

Bursa Cerita Sex: Pelampiasan Pada Teman Baik Istriku - Hallo Semuanya, Kali ini Bursa Cerita Sex, akan mencoba memberikan cerita dewasa Bursa Cerita Sex: Pelampiasan Pada Teman Baik Istriku, Silahkan membaca dengan khusu biar Lendir lancar di buang hahahah...

Bursa Cerita Sex: Pelampiasan Pada Teman Baik Istriku
Judul Cerita : Bursa Cerita Sex: Pelampiasan Pada Teman Baik Istriku

lihat juga

Judi Bola Liga365

Bursa Cerita Sex: Pelampiasan Pada Teman Baik Istriku

Bursa Cerita Sex: Pelampiasan Pada Teman Baik Istriku
Bursa Cerita Sex: Pelampiasan Pada Teman Baik Istriku

Aku bangun kesiangan. Kulirik jam dinding…ah… pukul 8 pagi…Suasana rumahku sepi. Tumben, pikirku. Segera aku meloncat bangun, mencari-cari istri dan anak-anakku..tidak ada…Ahh…baru kuingat, hari Minggu ini ada acara di sekolah anakku mulai jam 9 pagi. Pantas saja mereka sudah berangkat.



Istriku sengaja tidak membangunkan aku untuk ikut ke sekolah anakku, karena malamnya aku pulang kantor hampir pukul 4 pagi. Yah, beginilah nasib auditor kalo lagi dikejar tenggat laporan audit. Untung saja, ada anggota timku yang bisa mengurangi keteganganku. Ya, Agnes tentunya, yang semalam telah memberikan servis untukku.



Baginya, bersetubuh dengan lelaki lain selain suaminya bukan hal yang tabu, karena dia sendiri juga tidak mempermasalahkan jika suaminya berkencan dengan wanita lain. Prinsip mereka, yang penting pasangan tidak melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri. Aku tersenyum mengingat kejadian semalam.



Sebenarnya jam 11 malam kami sepakat untuk pulang kantor, tapi ternyata aku dan Agnes sama-sama lagi horny. Akhirnya, terjadilah seperti yang sudah kuceritakan diatas. Tak terasa, aku mulai horny lagi. tongkolku pelan-pelan mengangguk-angguk dan mulai mengacung.



“Walah…repot bener nih, pikirku. “Lagi sendiri, eh ngaceng.”



Kebetulan, di rumah tidak ada pembantu, karena istriku, Indah, lebih suka bersih-bersih rumah sendiri dibantu kedua anakku.



“Biar anak-anak gak manja dan bisa belajar mandiri. Lagian, bisa menghemat pengeluaran,” kilah istriku. Aku setuju saja.



Kurebahkan tubuhku di sofa ruang tengah, setelah memutar DVD BF. Sengaja kusetel, biar hasratku cepet tuntas. Setelah kubuka celanaku, aku sekarang hanya pakai kaos, dan tidak pakai celana. Pelan-pelan kuurut dan kukocok tongkolku. Tampak dari ujung lubang tongkolku melelehkan cairan bening, tanda bahwa birahiku sudah memuncak.



Aku pun teringat Lucy, sahabat istriku. Dia adalah sahabat istriku sejak dari SMP hingga lulus kuliah, dan sering juga main kerumahku. Kadang sendiri, kadang bersama keluarganya. Ya, aku memang sering berfantasi sedang menyetubuhi Lucy. Tubuhnya mungil, setinggi Agnes, tapi lebih gendut.



Yang kukagumi adalah kulitnya yang sangat-sangat-sangat putih mulus, seperti warna patung lilin. Dan pantatnya yang membulat indah, sering membuatku ngaceng kalo dia berkunjung.
Aku hanya bisa membayangkan seandainya tubuh mulus Lucy bisa kujamah, pasti nikmat sekali.



Fantasiku ini ternyata membuat tongkolku makin keras, merah padam dan cairan bening itu mengalir lagi dengan deras. Ah Lucy…seandainya aku bisa menyentuhmu..dan kamu mau ngocokin tongkolku..begitu pikiranku saat itu. Lagi enak-enak ngocok sambil nonton bokep dan membayangkan Lucy, terdengar suara langkah sepatu dan seseorang memanggil-manggil istriku.



“Ndah…Indah…aku dateng,” seru suara itu…



Oh my gosh…itu suara Lucy…mau ngapain dia kesini, pikirku. Kapan masuknya, kok gak kedengaran? Lucy memang tidak pernah mengetuk pintu kalau ke rumahku, karena keluarga kami sudah sangat akrab dengan dia dan keluarganya. Belum sempat aku berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan diri, tau-tau Lucy udah nongol di ruang tengah, dan…



“AAAHHH…Ssaanntoooo…!!!!,”jeritnya. “Kamu lagi ngapain?”

“Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,”aku tak bisa menjawa pertanyaannya. Gugup. Panik. Sal-ting.



Semua bercampur jadi satu. Orang yang selama ini hanya ada dalam fantasiku, tiba-tiba muncul dihadapanku dan straight, langsung melihatku dalam keadaan telanjang, gak pake celana, Cuma kaos aja. Ngaceng pula.



“Kamu dateng ok gak ngabarin dulu sih?” aku protes.

“Udah, sana, pake celana dulu!” Pagi-pagi telanjang, nonton bf sendirian,lagi ngapain sih?”ucapnya sambil duduk di kursi didepanku.

“Yee…namanya juga lagi horny…ya udah mending colai sambil nonton bf. Lagian anak-anak sama mamanya lagi pergi ke sekolah. Ya udah, self service,”sahutku.

“Udah, tooo. Sana pake celana dulu. Kamu gak risih apa?”

“Ah, kepalang tanggung kamu dah liat? Ngapain juga dtitutupin? Telat donk,”kilahku.

“Dasar kamu ya. Ya, udah deh, aku pamit dulu. Salam aja buat istrimu. Sana, terusin lagi.” Lucy beranjak dari duduknya, dan pamit pulang.



Buru-buru aku mencegahnya. “Lucy, ntar dulu lah…,”pintaku.



“Apaan sih, orang aku mau ngajak Indah jalan, dia nggak ada ya udah, aku mau jalan sendiri,”sahutnya.

“Bentar deh Lucy. Tolongin aku, gak lama kok, paling sepuluh menit,”aku berusaha merayunya.

“Gila kamu ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Lucy protes sambil melotot. “Kamu jangan macem-macem deh, Santo. Gak mungkin donk aku lakukan itu,”sergahnya.

“Lucy,”sahutku tenang. “Aku gak minta kamu untuk melakukan hal itu. Enggak. Aku Cuma minta tolong, kamu duduk didepanku, sambil liatin aku colai.”

“Gimana?”

Lucy tidak menjawab. Matanya menatapku tajam. Sejurus kemudian..

“Ok, Lucy. Aku janji gak ndeketin apalagi menyentuh kamu. Tapi, sebelum itu, kamu juga buka bajumu dong…pake BH sama CD aja deh, gak usah telanjang. Kan kamu dah liat punyaku, please?” aku merayunya dengan sedikit memelas sekaligus khawatir.

“Hm…fine deh. Aku bantuin deh…tapi bener ya, aku masih pake BH dan CDku dan kamu gak nyentuh aku ya. Janji lho,”katanya. “Tapi, tunggu. Aku mau tanya, kok kamu berani banget minta tolong begitu ke aku?”

“Yaaa…aku berani-beraniin…toh aku gak nyentuh kamu, Cuma liat doang. Lagian, kamu dah liat punyaku? Trus, aku lagi colai sambil liat BF…lha ada kamu, kenapa gak minta tolong aja, liat yang asli?”kilahku.

“Dasar kamu. Ya udah deh, aku buka baju di kamar dulu.”

“Gak usah, disini aja,”sahutku.



Perlahan, dibukanya kemejanya…dan…ah payudara itu menyembul keluar. Payudara yang terbungkus BH sexy berwarna merah…menambah kontras warna kulitnya yang sangat putih dan mulus. Aku menelan ludah karena hanya bisa membayangkan seperti apa isi BH merah itu.



Setelah itu, diturunkannya zip celana jeansnya, dan dibukanya kancing celananya. Perlahan, diturunkannya jeansnya… Sedikit ada keraguan di wajahnya. Tapi akhirnya, celana itu terlepas dari kaki yang dibungkusnya. Wow…aku terbelalak melihatnya.



Paha itu sangat putih sekali. Lebih putih dari yang pernah aku bayangkan. Tak ada cacat, tak ada noda. Selangkangannya masih terbungkus celana dalam mini berbahan satin, sewarna dengan Bhnya. Sepertinya, itu adalah satu set BH dan CD.



“Nih, aku udah buka baju. Dah, kamu terusin lagi colinya. Aku duduk ya.”



Lucy segera duduk, dan hendak menyilangkan kakinya. Buru-buru aku cegah.



“Duduknya jangan gitu dong…”

“Ih, kamu tuh ya…macem-macem banget. Emang aku musti gimana?”protes Lucy. “Nungging, gitu?”

“Ya kalo kamu mau nungging, bagus banget,”sahutku.

“Sori ye…emang gue apaan,”cibirnya.

“Kamu duduk biasa aja, tapi kakimu di buka dikit, jadi aku bisa liat celana dalam sama selangkanganmu. Toh veggy kamu gak keliatan?”usulku.

“Iya…iya…ni anak rewel banget ya. Mau colai aja pake minta macem-macem,”Lucy masih saja protes dengan permintaanku.

“Begini posisi yang kamu mau?”tanyanya sambil duduk dan membuka pahanya lebar-lebar.

“Yak sip.” Sahutku. “Aku lanjut ya colinya.”



Sambil memandangi tbuh Lucy, aku terus mengocok tongkolku, tapi kulakukan dengan perlahan, karena aku nggak mau cepet-cepet ejakulasi. Sayang, kalau pemandangan langka ini berlalau terlalu cepat. Aku pun menceracau, tapi Lucy tidak menanggapi omonganku.



“Oh…Lucy….kamu kok mulus banget siiiihhh….”aku terus menceracau. Lucy menatapku dan tersenyum.

“Susumu montok bangeeeettttt… pahamu sekel dan putiiiihhhh….hhhhh….bikin aku ngaceng, Luuuccccyyyyyy……”



Lucy terus saja menatapku dan kini bergantian, menatap wajahku dan sesekali melirik ke arah tongkolku yang terus saja ngacai alias mengeluarkan lendir dari ujung lobangnya.



“Pantatmu, Lucy….seandainya kau boleh megang….uuuuhhhhh….apalagi kena tongkolku….oouuufff…..pasti muncrat aku….,”aku merintih dan menceracau memuji keindahan tubuhnya. Sekaligus aku berharap, kata-kataku dapat membuatnya terangsang.



Lucy masih tetap diam, dan tersenyum Matanya mulai sayu, dan dapat kulihat kalo nafasnya seperti orang yang sesak nafas. Kulirik ke arah celana dalamnya…oppsss….aku menangkap sinyal kalo ternyata Lucy juga mulai ternagsang dengan aktivitasku.



Karena celana dalamnya berbahan satin dan tipis, jelas sekali terlihat ada noda cairan di sekitar selangkannya. Duduknya pun mulai gelisah. Tangannya mulai meraba dadanya, dan tangan yang satunya turun meraba paha dan selangkangannya. Tapi Lucy nampak ragu untuk melakukannya.



Mungkin karena ia belum pernah melakukan ini dihadapan orang lain. Kupejamkan mataku, agar Lucy tau bahwa aku tidak memperhatikan aktivitasku. Dan benar saja…setelah beberapa saat, aku membuka sedikit mataku, kulihat tangan kiri Lucy meremas payudaranya dan owww…



BH sebelah kiri ternyata sudah diturunkan… Astagaaa..!!! Puting itu merah sekali…tegak mengacung. Meski sudah melahirkan, dan memiliki satu anak, kuakui, payudara Lucy lebih bagus dan kencang dibandingkan Agnes. Kulihat tangan kiri Lucy memilin-milin putingnya, dan tangan kanannya ternyata telah menyusup ke dalam celana dalamnya.



“Sssshh….oofff….hhhhhh…..:” Kudengar suaranya mendesis seolah menahan kenikmatan. Aku kembali memejamkan mataku dan meneruskan kocokan pada tongkolku sambil menikmati rintihan-rintihan Lucy.



Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hangat…basah…lembut…menerpa tongkol dan tanganku. Aku membuka mata dan terpekik. “Lucy…kamu…,”leherku tercekat.



“Aku nggak tega liat kamu menderita, santoo,”sahut Lucy sambil membelai tongkolku dengan tangannya yang lembut.



My gosh…perlahan impin dan obsesiku menjadi kenyataan. tongkolku dibelai dan dikocok dengan tangan Lucy yang putih mulus. Aku mendesis dan membelai rambut Lucy. Kemudian secara spontan Lucy menjilat tongkolku yang sudah bene-bener sewarna kepiting rebus dan sekeras kayu.



Dan…hap…! Sebuah kejadian tak terduga tetapi sangat kunantikan…akhirnya tongkolku masuk ke mulutnya. Ya, tongkolku dihisap Lucy. Sedikit lagi pasti aku memperoleh lebih dari sekedar cunilingis.
Tak tahan dengan perlakuan sepiha Lucy, kutarik pinggulnya dan buru-buru kulepaskan Cdnya.



“Kamu mau ngapain, Too?” Lucy protes sambil menghentikan hisapannya. Aku tidak menjawab, jariku sibuk mengusap dan meremas pantat putih nan montok, yang selama ini hanya menjadi khayalanku.

“Ohh..Lucy…boleh ya aku megang pantat sama memiaw kamu?”pintaku.

“Terserah…yang penting kamu puas.”



Segera kuremas-remas pantat Lucy yang montok. Ah, obsesiku tercapai…dulu aku hanya bisa berkhayal, sekarang, tubuh Lucy terpampang dihadapanku.
Puas dengan pantatnya, kuarahkan jariku turun ke anus dan vaginanya. Lucy merintih menahan rasa nikmat akibat usapan jariku.



“Achh…Lucy…enak bangeeeeett….sssshhh…….”aku menceracau menikmati jilatan lidah dan hangatnya mulut Lucy saat mengenyot tongkolku.



Betul-betul menggairahkan melihat bibir dan lidahnya yang merah menyapu lembut kepala dan batang kelelakianku. Hingga akhirnya….



“Luucccyy….bibir kamu lembut banget sayaaaannggg….aku…kach…aku…”

“Keluarin sayang…tongkol kamu udah berdenyut tuh….udah mau muncrat yaaa….”

“I…iiy…iiyyaaa….Luu……CCyyy….Ouuuuufuffffff….. argggghhhhhhhhhh…..”



Tak dapat kutahan lagi. Bobol sudah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt…
Spermaku muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir dan dada Lucy. Tangan halus Lucy tak berhenti mengocok batang kejantananku, seolah ingin melahap habis cairan yang kumuntahkan
Ohhhh…….my dream come true….. Obsesiku tercapai…pagi ini aku muncratin pejuhku di bibir dan muka Lucy.



“Lucy…kamu gak geli sayang…? Bibir, muka sama dada kamu kenas permaku?”



Lucy menggeleng dengan pandangan sayu. Tangannya masih tetap memainkan tongkolku yang sedikit melemas.



“Kamu baru pertam kali kan, mainin kont0l orang selain suami kamu?”

“Iya, Sannt. Tapi kok aku suka ya…terus terang, bau sperma kamu seger banget…kamu rajin makan buah sama sayur ya?” tanya Lucy.

“Iya…kalo gak gitu, Indah mana mau nelen sperma aku.”

“Aihhh….” Lucy terpekik. “Indah mau nelen sperma?”



Aku mengangguk. “Kenapa Lucy? Penasaran sama rasanya? Lha itu spermaku masih meleleh di muka sama dada kamu. Coba aja rasanya,”sahutku.



“Mmmm…ccppp…ssllrppp….” terdengar lidah dan bibir Lucy mengecap spermaku.



Dengan jarinya yang lentik, disapunya spermaku yang tumpah didada dan mukanya, kemudian dijilatnya jarinya sampe bersih.Hmmm….akhirnya spermaku masuk kedalam tubuhnya…



“Iya, Santtoo, sperma kamu kok enak ya. Aku gak ngerasa enek pas nelen sperma kamu…”

“Mau lagi….?”

“Ih…kamu tuch ya…masih kurang, santto?”

“Lha kan baru oral belum masuk ke meqi kamu, Lucy.” Sahutku…”Tuh, liat…bangun lagi kan?”

“Dasar kamu ya….”

“Bener kamu gak mau spermaku ? Ya udah kalo gitu, aku mau bersih-bersih dulu.”ancamku sambil bangkit dari kursi.

“Mau sih…Cuma takut kalo Indah dateng…gimana donk….”Lucy merajuk.



Perlahan kuhampiri Lucy, kuminta dia duduk di sofa, sambil kedua kakiya diangkat mengangkang.
Kulihat meqinya yang licin karena cairan cintanya meleleh akibat perbuatan jariku.



“Hmmm…Lucy…meqi kamu masih basah…kamu masih horny dong…”tanyaku.

“Udah, San….cepetan deh…nanti istrimu keburu dateng…Lagian aku udah…Auuuwwww….!!!!

“Ohhh..Shhhhh…….”Lucy memiawik saat lidahku menari diujung klitorisnya.

“Santt…ttooo… kamu gilaaa yaaa…”bisiknya samil menjambak rambutku.



Kumainkan lidahku dikelentitnya yang udah membengkak. Jari ku menguak bibir vagina Lucy yang semakin membengkak. Perlahan kumasukkan telunjukku, mencari G-spotnya.
Akibatnya luar biasa. Lucy makin meronta dan merintih. Jambakannya makin kuat. Cairan birahinya makin membasahi lidah dan mulutku.



Tentu saja hal ini tak kusia-siakan. Kusedot kuat agar aku dapat menelan cairan yang meleleh dari vaginanya. Ya…aroma vagina Lucy lain dengan aroma vagina istriku. Meskipun keduanya tidak berbau amis, tapi ada sensasi tersendiri saat kuhirup aroma kewanitaan Lucy.



“C’mon..Sannt…I can’t stand…ochhh…ahhhhhh…shhhh……c’mon honey….quick…quick….”



Aku paham, gerakan pantat Lucy makin liar. Makin kencang. Kurasakan pula meqinya mulai berdenyut…..seentar lagi dia meledak, pikirku.



“Ting…tong…”bel rumahku berbunyi.

“Mas…..mas Santo….”suara wanita didepan memanggil namaku.



Sontak kulepaskan jilatanku. Lucy memandang wajahku dengan wajah pucat. Aku pun memandang wajahnya dengan jantung berdebar.



“Saann..kok kayak suara Rika ya…”Lucy bertanya

“Wah..mau ngapain dia kesini…..gawat dong…”ucapku ketakutan. “Udah Lucy, kamu masuk kamarku dulu deh…cepetan…”



Segera Lucy berjingkat masuk ke kamarku, mungkin sekalian membersihkan tubuhnya karena dikamarku ada kamar mandi. Aku tau ada sebersit ekspresi kecewa di wajahnya, karena Lucy hampir meledakkan orgasmenya, yang terputus oleh kedatangan Rika, sahabatnya sekaligus sahabat istriku.
Setelah kupakai kaos dan celana yang kuambil dari lemari dan cuci muka sedikit, aku menuju ke ruang tamu, membuka pintu.



“Halo, mas….’Pa kabar..?” sahut Rika begitu melihatku membuka pintu.

“Baik, dik. Ayo masuk dulu. Tumben nih pagi-pagi, kayaknya ada yang penting?” tanyaku seraya mengajak Rika menuju ruang tengah.



Mataku sedikit terbelalak melihat pakaiannya. Bagaimana tidak?
Kaos ketat menempel dibadannya, dipadukan dengan celana spandex ketat berwarna putih. Aku melihat lipatan cameltoe di selangkangannya menandakan bahwa didaerah itu tidak ada bulu jembutnya, dan saat aku berjalan dibelakangnya, tak kulihat garis celana dalam mebayang di spandexnya.



Hmm…mana mungkin dia gak pake CD..mungkin pake G-string, pikirku. Kami berdua segera menuju ruang tengah. Untung saja, film bokep yang aku setel udah selesai, jadi Rika nggak sempat melihat film apa yang tengah aku setel.



“Ini lho mas, aku mau anter oleh-oleh. Kan kemarin aku baru dateng dari Jepang. Nah, ini aku bawain ….sedikit bawaan lah, buat kamu sama Indah. Itung-itung membagi kesenangan.”

“Wah…tengkyu banget lho…kamu baik banget”

“Ah, biasa aja lageee..hehehe”



Kami berdua sejenak ngobrol-ngobrol, karena memang sudah beberapa bulan Rika nggak berkunjung ke rumahku. Rika ini adalah salah satu sahabat istriku, selain Lucy. Diam-diam, akupun juga terobsesi dapat menikmati tubuhnya. Ya, Rika seorang wanita yang mungil. Tinggi badannya nggak lebih dari 155cm. Bandingkan dengan tinggiku yang 170. Warna kulitnya putih, tapi cenderung kemerahan.



Hmm..aku sering berkhayal lagi ngent*tin Rika, sambil aku gendong dan aku rajam memiawnya dengan tongkolku. Pasti dia merintih-rintih menikmati hujaman tongkolku…



“Hey…bengong aja…ngeliatin apa sih..” tegur Rika.

“Eh…ah…anu…enggak. Cuma lagi mikir, kapan ya gw bisa jalan-jalan sama kamu…”



Eits..kok ngomongku ngelantur begini sih. Aduh…gawat deh…

“Alaaa..mikirin jalan-jalan apa lagi ngeliatin sesuatu?” Rika melirikku dengan pandangan menyelidik.
Mati aku…berarti waktu aku ngeliatin bodynya, ketahuan dong kalo aku melototin selangkangannya. Wah….

“Ya udah, mas. Aku pamit dulu, abis Indah pergi. Lagian,dari tadi kamu ngeliatin melulu. Ngeri aku…ntar diperkosa sama kamu deh..hiyyy…” Rika bergidik ambil tertawa. Aku Cuma tersenyum.

“Ya udah, kalo kamu mau pamit. Aku gak bisa ngelarang.”

“Aku numpang pipis dulu ya.”Rika menuju kamar mandi di sebelah kamarku.

“Iya.”



Tepat saat Rika masuk kamar mandi, sambil berjingkat Lucy keluar dari kamarku.
Aku terkejut, dan segera menyuruhnya masuk lagi, karena takut ketahuan. Ternyata CD Lucy ketinggalan di kursi yang tadi didudukinya waktu sedang aku jilat memiawnya. Astagaaa…untung Rika nggak ngeliat…atu jangan-jangan dia udah liat, makanya sempat melontarkan pandangan menyelidik? Entahlah…



“Cepeeeett..ambil trus ke kamar lagi.”perintahku sambil berbisik.



Lucy mengangguk, segera menyambar Cdnya dan…



“Ceklek….!”



Pintu kamar mandi terbuka, dan saat Rika keluar, kulihat wajahnya terkejut melihat Lucy berdiri terpaku dihadapannya sambil memegang celana dalamnya yang belum sempat dipakainya. Ditambah keadaan Lucy yang hanya memaki kaos, tetapi dibawah tidak memakai celana jeansnya.



Akupun terkejut, dan berdiri terpaku. Hatiku berdebar, tak tahu apa yang harus kuperbuat atau kuucapkan. Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan tak terelakkan. Kepalaku terasa pening.



“Lucy…? Kamu lagi ngapain?” Rika bertanya dengan wajah bingung campur kaget.

“Eh…anu…ini lho…”kudengar Lucy gelagapan menjawab pertanyaan Rika.

“Kok kamu megang celana dalem? Setengah telanjang lagi?” selidik Rika. “Oo…aku tau…pasti kamu berdua lagi berbuat yaaa…?”

“Enggak Rik. Ngaco kamu, orang Lucy lagi numpang dandan di kamarku kok.” Sergahku membela diri.

“Trus, kalo emang numpang dandan, ngapain dia diruangan ni, pake bawa celana dalem lagi.” Udah gitu telanjang juga..Hayo!!!” Rika bertanya dengan galak.

“Sini liat.” Rika menghampiri Lucy dan cepat merebut celana dalam yang dipegang Lucy, tanpa perlawanan dari Lucy.

“Kok basah…?”Rika mengerutkan keningnya. “Nhaaaaa..bener kan…hayooooo….kamu ngapain…?”

“udah deh, Rik…emang bener, aku lagi mau ML sama Lucy. Belum sempet aku ent*t, sih. Baru aku jilat-jilat memiawnya, keburu kamu dateng.” Aku menyerah dan memilih menjelaskan apa yang barusan aku lakukan.

“Kamu tuh ya…udah punya istri masih doyan yang lain. Ini cewek juga sama aja, gatel ngeliat suami sahabatnya sendiri.” Rika memaki kami berdua dengan wajah merah padam.

“Terserah kamu lah…kamu mau laporin aku sama Lucy ke polisi…silakan. Mau laporin ke Indah…terserah….”ucapku pasrah.

“Hmm…kalo aku laporin ke Indah…kasian dia. Nanti dia kaget.Kalo ke polisi….ah…ngrepotin.” Rika meninmbang-nimbang apa yang hendak dilakukannya.

“Gini aja mas. Aku gak laporin ke mana-mana. Tapi ada syaratnya.” Rika memberikan tawarannya kepadaku.

“Apa syaratnya, Rik?”

“Nggak berat kok. Gampang banget dan mudah.”

“Iya, apaan syaratnya?” Lucy ikut bertanya

“Terusin apa yang kamu berdua tadi lakuin. Aku duduk disini, nonton. Bagaimana?”

“WHAT?” aku dan Lucy berteriak bebarengan. “Gila lu ya, masa mau nonton orang lagi ML?”

“Ya terserah kamu.Mau pilih mana…?”Rika mencibir dengan senyum kemenangan.



Aku dan Lucy saling berpandangan. Kuhampiri Lucy, kubelai tangan dan rambutnya. Lucy seolah memahami dan menyetujui syarat yang diajukan Rika. Segera saja kulumat bibirnya yang ranum dan tanganku meremas pantatnya yang sekel. Lucy segera membuka kaosnya.



Sambil terus berciuman dan meremas pantatnya, kubimbing Lucy menuju sofa. Kurebahkan ia disana, dan dengan cekatan dilepaskannya kaos dan celana ku sehingga aku sekarang telanjang bulat di hadapan Lucy dan Rika.



Aku melirik Rika, yang duduk menyilangkan kakinya. Kulihat wajahnya menegang seperti tegangnya tongkolku. Aku tersenyum-senyum kearahnya, sambil memainkan dan mengocok-ngocok tongkolku, seolah hendak memamerkan kejantananku.



“Ayo, Saannt…cepetan deh…udah gak tahan, honey…”Lucy merintih. “Biarin aja si Rika…paling dia juga udah basah.”

“Enak aja kamu bilang.”sergah Rika. “Udah buruan, aku pengen liat kayak apa sih kalian kalo ML.”



Aku menatap mata Lucy yang mulai sayu dan tersenyum. Setelah melepas seluruh pakaiannya, sempurnalah ketelanjangbulatan kami berdua. Tak sabar, segera kusosor memiaw Lucy yang sangat becek oleh lendir birahinya.



“Achhhh….sshhhh….ooouufffffggg…SSaannnn…tttooo.” Lucy menjerit dan mengerang menerima serangan lidahku. Pantatnya tersentak keatas, mengikuti irama permainan lidahku.



Hmmm…nikmat sekali. memiawnya berbau segar, tanda bahwa memiaw ini sangat terawat. Dan yang membutku girang adalah lendir memiawnya yang meleleh deras, seiring dengan makin kuatnya goyangan pinggulnya.



“Hmmmppppppff…Saanttooo…Santo…sayaaaanngg.. akh…akh…akkkkkuu…”Lucy terus merintih.



Nafasnya tersengal-sengal, seolah ada sesuatu yang mendesaknya.



“Akku……mmmhhhhh…ssshhh….”

“Keluarin sayang….keluarin yang banyak…..”aku berbisik sambil jari tengahku terus mengocok memiawnya, dan jempolku menggesek itilnya yang sudah sangat keras.



Baik itil maupun memiaw Lucy sudah benar-benar berwarna merah, sangat basah akibat lendirnya yang meleleh, hingga membasahi belahan pantat dan sofa. Segera aktivitas tanganku kuganti dengan jilatan lidahku lagi.



Hal ini membuat paha Lucy menegang, tangannya menjambak rambutku, sekaligus membenamkan kepalaku ditengah jepitan pahanya yang menegang. Aku merasakan memiawnya berdenyut, dan ada lelehan cairan hangat menerpa bibirku.



“SSSaaaannntttooooooo…..AAAAACCCCHHHHHHHHH……”Lucy da menjerit keras sekali, menjepit kepalaku dengan pahanya, menekan kepalaku di selangkangannya dan berguncang hebat sekali.
Tak kusia-siakan lendir yang meleleh itu. Kusedot semuanya, kutelan semuanya.



Ya, aku tidak mau membuang lendir kenikmatan Lucy. Sedotanku pada memiawnya membuat guncangan Lucy makin keras…dan akhirnya Lucy terdiam seperti orang kejang. Tubuhnya kaku dan gemetaran.



“Oooohhhh…Santoo…aaachhh…..”Lucy menceracau sambil gemetaran.

“Enn..en….Nik…mat…bangeth….sssse….dothan…sama jhiilatan kkk…kamu…”



Kulihat Lucy tersenyum dengan wajah puas. Segera kuarahkan bibrku melumat putingnya yang keras dan kemerahan. Meskipun sudah melahirkan dan menyusui dua anak, payudara Lucy sangat terawat, kencang. Dan putingnya masih berwwarna kemerahan.



Siapa lelaki yang tahan melihat warna putting seperti itu, apalgi sekarang puting merah itu benar-benar masih keras dan mengacung meski pemiliknya barusan menggapai orgasme.



“Shhh…Saant…iihhhh…geli….” Lucy menggelinjang saat kuserbu putingnya. Aku tidak mempedulikan rintihannya. Kulumat putingnya dengan ganas sehingga badan Lucy mulai mengejang lagi.

“Acchhh….Santoo….sayaaaannggg…”Lucy merintih. “Terus sayang…iss…ssseeeppp…pen….til…kuhh…ooofffffhhhhhhh hh……”



Tanpa aba-aba, segera kusorongkan tongkolku yang memang sudah mengeras seperti kayu ke memiaw Lucy. Blessss…….



“Ahhhhkkk…..mmmmppppfff…..ooooooggggghhhh….” pantat Lucy tersentak kedepan, seiring dengan menancapnya tongkolku di mekinya. Kutekan tongkolku makin dalam dan kuhentikan sejenak disana.

Terasa sekali memiaw Lucy berkedut-kedut, walaupun tergolong super becek.

“Ayo, Saann…..gocek tongkol kamuh….akk….kkuuuu….udah mau…keluarrrrr…laggiiiihhh…”Lucy merintih memohon.



Segera kugocek tongkolku dengan ganas. “crep.crep…cplakkk….cplaakkkk…cplaakkkk ….” suara gesekan tongkolku dengan memiaw Lucy yang sudah basah kuyup nyaring terdengar. Tak lupa kulumat bibirnya yang ranum, dan tanganku menggerayang memilin menikmati payudara dan putingnya.



Sesaat kemudian kulihat mata Lucy terbalik, Cuma terlihat putihnya. Kakinya dilipat mengapit pinggul dan pantatku. Tangannya memeluk tubuhku erat.



“SSAN…TTT…TTooooo….OOOOGGGHHHH…AAAKKKKKKKKKK KK….” Lucy menjerit keras dan sekejap terdiam.



Tubuhnya bergetar hebat. Terasa di tongkolku denyutan memiaw Lucy…sangat kuat. Berdenyut-denyut, seolah hendak memijit dan memaksa spermaku untuk segera mengguyur menyiram memenya yang luar biasa becek.



Makin kuat kocokan tongkolku didalam memiaw Lucy, makin kencang pula pelukannya. Nafas Lucy tertahan, seolah tidak ingin kehilangan moment-moment indah menggapai puncak kenikmatan.
Karena denyutan memiaw Lucy yang membuatku nikmat, ditambah rasa hangat karena guyuran lendir memiawnya, aku pun tak tahan.



Ditambah ekspresi wajahnya yang memandang wajahku dengan mata sayu namun tersirat kepuasan yang amat sangat.



“Ayo Santo…keluarin pejuh kamu…keluarin dimemiawku….”Lucy memohon.

“Kamu gak papa aku tumpahin pejuh di rahim kamu?”tanyaku sambil terengah-engah.

“No problem honey…aku safe kok….”sahut Lucy. “C’mon honey..shot your sperm inside…c’mon honey….”

“Luucc……Luccyyy…..Lucccyyyyy.ARGGGGGGHHHHH…”aku merasakan pejuhku mendesak. Kupercepat kocokanku, dan Lucy juga mengencangkan otot memiawnya, berharap agar aku cepet muncrat.

“AAACCHHHHHHH………..” Jrrrrrooooooooootttt…..jrrrrooooooooottttt..jrrrro ooooottttt…..tak kurang dari tujuh kali semprotan pejuhku.



Banyak sekali pejuh yang kusemprotkan ke rahim Lucy, sampai-sampai ia tersentak. Kubenamkan dalam-dalam tongkolku, hingga terasa kepalaku speerti memasuki liang kedua.Ah….ternyata tongkolku bisa menembus mulut rahimnya.



Berarti pejuhku langsung menggempur rahimnya.
Ohhh…nDrreeeww…enak sayang….nikmat, sayaaannggg…offffffghhhh……” Lucy merintih lagi.

“Uggghhh…hangat sekali pejuh kamu, Santo…” ucap Lucy.



Setelah beristirahat sejenak dengan menancapkan tongkolku dalam-dalam, secara mendadak kucabu tongkolku.



“Plllookkkkk….”



Kupandangi memiaw Lucy yang masih membengkak dan merah denganlubang menganga. Lucy segera mengubah posisi duduknya dan…ceeerrrrrr……pejuhku meleleh. Segera saja jemari Lucy meraih dan mengorek bibir memiawnya, menjaga agar pejuhku tidak tumpah kesofa.



Akibatnya, telapak tangan Lucy belepotan penuh dengan pejuhku yang telah bercampur lendir memiawnya. Dengan pejuh di telapak tangan kanannya, Lucy menggunakan jari tangan kirinya,mengorek memiawny untuk membersihkan memiawnya dari sisa pejuhku.



“Brani kamu telen lagi?” tantangku.

“Idih…syapa takut….”Lucy balas menantangku. “Nih liat ya….” Clep…dijilatnya telapak tangan yang penuh pejuhku…

“MMmmmm….slrrpppp….glek….aachhhh….” Lucy nampak puas menikmati pejuh ditangannya.

“Hari ini kenyang sekali aku…sarapan pejuh kamu dua kali..hihihihi…”Lucy tertawa geli.

“Tuh…masih ada sisanya ditangan. Mbelum bersih.” Sahutku.

“Tenang, Sannt..sisanya buat…ini.” Sambil berkata begitu, Lucy mengambil sebagian pejuhku dan mengusapkannya diwajahnya.

“Bagus lho buat wajah…biar tetep mulus…”sahut Lucy sambil mengerling genit.

“Astagaaaa….kamu tuh, Lucy…diem-diem ternyata…”kataku terkejut.

“Kenapa…? Kaget ya?”

“Diem-diem, muka alim..tapi kalo urusan birahi liar juga ya..”

“Ya iyalaaahhh..hare gene, Saannntt…orang enak kok ditolak.”

“Tau gitu tadi aku semprot di uka kamu aja ya..” sesalku

“Iya juga sih..sebenernya aku pengen kamu semprot. Cuman aku dah gak bisa ngomong lagi…nahan enak sih..lagian aku pengen ngerasain semprotan pejuh kamu di memiawku.” Lucy tersenyum

“Eh, San…ssstttt…coba liat tuh…jailin yuk…..”ajak Lucy


Ya ampuuunnnn…aku lupa bahwa aktivitasku tengah diamat Rika. Segera kulirik Rika, yang ternyata tanpa kami sadari tengah beraktivitas sendiri. Tangannya menggosok-nggosok spandexnya, yang mulai membasah.


Kulihat lekukan cameltoenya makin besar, lebih besar dari yang kulihat diruang tamu. Pertanda bahwa Rika juga telah dilanda birahi dan akhirnya setelah aku istirahat sejenak sambil ku hisap clitorisnya Rika dan kuremas remas payudaranya supaya tongkol ku tegang kembali, Rika pun aku berikan kenikmatan yang sama dengan Lucy.


Demikianlah Artikel Bursa Cerita Sex: Pelampiasan Pada Teman Baik Istriku

Sekian Blog Lendir Bursa Cerita Sex: Pelampiasan Pada Teman Baik Istriku, Mudah-mudahan bisa membantu kalian yang sedang kesepian dan bisa menghantarkan tidur pulas hahhaha

Anda sedang membaca artikel Bursa Cerita Sex: Pelampiasan Pada Teman Baik Istriku dan artikel ini url permalinknya adalah http://bursaceritasex.blogspot.com/2017/05/bursa-cerita-sex-pelampiasan-pada-teman.html Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Tag : , , , , , ,

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Bursa Cerita Sex: Pelampiasan Pada Teman Baik Istriku"

Post a Comment